Dewaji.Com

Cuma Seorang Pecandu Dji Sam Soe!
dewaji

Ogoh-Ogoh, Sumbangan, Budaya dan Upacara


Ogoh-Ogoh, sosok patung raksasa hasil kreatif pemuda Bali kerap membawa cerita. Dari tahun ke tahun. Bahkan pembuatan ogoh-ogoh sempat dilarang. Alhasil, keputusan inipun mendulang pro kontra. Terlepas dari pro kontra ini — sebab saya tidak mau terlibat di dalamnya — Ternyata ogoh-ogoh masih membawa “cerita”.

Ogoh-ogoh itu ajang kreativitas anak muda Bali, BETUL. Ogoh-ogoh juga untuk memenuhi salah satu syarat upacara jelang Brata Penyepian, yakni saat pengrupukan dengan fungsi untuk mengusir Bhuta Kala, jeg SETUJU masi. Ogoh-ogoh juga bisa dijadikan salah satu objek pariwisata, JEG BUIN ANGGUK-ANGGUK, kalau diatur dengan baik. .
Dan dengan adanya ogoh-ogoh berarti harus nyumbang = Geleng-Geleng aja.

Kenapa geleng-geleng ?
Masalah sumbang menyumbang ini sebenarnya bukan masalah jika yang datang hanya satu atau dua kelompok pemuda dari banjar setempat. Tapi kalau yang mungut sumbangan dari lintas mancanegara banjar, ini sepertinya yang akan memberatkan.

Seperti yang baru saja dialami ibu saya. “Ada yang mau minta sumbangan,” ucap ibu pada saya. “Kasi aja, secukupnya,” saya jawab demikian. Secukupnya itu berapa, mungkin itu yang ada dalam pikiran ibu saya, saya tidak memberikan penjelasan lebih rinci. Biarlah kebijaksanaan seorang ibu yang menentukan besaran rupiah yang harus disumbangkan. Apalagi yang nodong itu anak-anak dari banjar lain. Dan sebagai tambahannya, meskipun Ibu saya sudah menjelaskan kalau udah ada kelompok lain yang datang meminta sumbangan, mereka tetap saja ngotot minta sumbangan. Dan dengan bangga mengatakan kalau dia adalah anak-anak dari Banjar A. Bukannya merasa malu, karena ia minta sumbangan di bukan wilayah banjarnya. DASAR, anak-anak. Semoga aja yang lebih dewasa bersikap lebih dewasa.

Kasus ini sepertinya sudah kerap terjadi. Ir. I Made Sudibia, M.Si. dari Banjar Kukub, Desa Perean Tengah, Tabanan, juga mengeluhkan hal ini lewat Surat Pembaca di BaliPost tahun 2005 lalu.

Sumbangan yang diminta tidak khusus untuk anggota banjar yang bersangkutan, tetapi juga dari kelompok banjar lain. Sehingga, di gang saya, misalnya, tiap musim pembuatan ogoh-ogoh akan didatangi oleh lima sampai tujuh kelompok orang kreatif (?) tersebut untuk meminta sumbangan ogoh-ogoh. Caranya ada yang sopan, ada yang tidak sopan (dengan ancaman, ”awas nanti rumahnya dilempari atau temboknya dirusak, dan lain-lain)”.

Itu Budaya 2005 lalu ternyata masih juga menjadi Budaya di tahun 2008. :D Lahh, kok maksa masukin kata budaya-nya. ;) ), Atau memang disanakah unsur budaya-nya ? Dan kok sampe lempar-lemparan batu segala sihh ???

Dipoetraz lain lagi, ia mengungkap soal : “Professionalitas sebuah banjar

Sebenernya kalo sumbang menyumbang sih ga masalah asal, maksud dan tujuannya jelas.
Contohnya,
Seharusnya sebelumnya sudah ada hasil survey mengenai:
1. Ogoh-ogoh apa yang akan dibuat?
2. Besarnya seberapa?
3. Bahan-bahan apa saja yang diperlukan (mungkin saja yang nyumbang punya barang-barang yang diperlukan, karena itu lebih bermanfaat daripada uang yang tingkat penggunaan yang tidak jelas sangat besar.
4. Akan dibawa kemana saja ogoh-ogoh tersebut?
5. Kira-kira jumlah sumbangan berapa diperlukan-walaupun hanya sekedar estimasi saja?
6. Siapa saja yang terlibat?
7. (ada yang mau nambahin?)

Nah saya mau tambahkan sedikit disini :
8. Bisakah pihak banjar atau yang terkait MEMBATASI jumlah pembuatan ogoh-ogoh ?

Masa dalam 1 banjar ada lebih dari 3 ogoh-ogoh. Karena hal ini akan berkaitan dengan kegiatan mencari sumbangan lintas banjar tadi. Sekali lagi, saya tdk keberatan untuk nyumbang. Namun harus jelas pada siapa harus menyumbang dan untuk apa.

Dan kalau dalam meminta sumbangan itu harus menggunakan ancaman seperti yang dikatakan Bapak Ir. I Made Sudibia, M.Si, itu kan bukan budaya orang Bali yang dikenal ramah tamah.

Ogoh-Ogoh, Sumbangan, Budaya dan Upacara Posted in : celoteh
And contains keyword : budaya, celoteh, ogoh-ogoh, sumbangan, upacara

Comments are closed.

Cuma Pecandu Dji Sam Soe

Bukan siapa2. Bukan pejabat, bukan pemulung, bukan juga seorang yang pantas disebut blogger.

Saya cuma pecandu berat Kretek Dji Sam Soe ditambah 4 gelas kopi sehari. Gelas kecil!!! Bukan gelas besar.

Find similar to : Ogoh-Ogoh, Sumbangan, Budaya dan Upacara here :
Tags: , , , ,