<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dewaji.Com &#187; ogoh-ogoh</title>
	<atom:link href="http://dewaji.com/tag/ogoh-ogoh/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dewaji.com</link>
	<description>Cuma Seorang Pecandu Dji Sam Soe!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Jul 2010 13:27:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ogoh-Ogoh, Sumbangan, Budaya dan Upacara</title>
		<link>http://dewaji.com/ogoh-ogoh-sumbangan-budaya-dan-upacara.html</link>
		<comments>http://dewaji.com/ogoh-ogoh-sumbangan-budaya-dan-upacara.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 10:03:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dewaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ogoh-ogoh]]></category>
		<category><![CDATA[sumbangan]]></category>
		<category><![CDATA[upacara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dewaji.com/ogoh-ogoh-sumbangan-budaya-dan-upacara.html</guid>
		<description><![CDATA[Ogoh-Ogoh, sosok patung raksasa hasil kreatif pemuda Bali kerap membawa cerita. Dari tahun ke tahun. Bahkan pembuatan ogoh-ogoh sempat dilarang. Alhasil, keputusan inipun mendulang pro kontra. Terlepas dari pro kontra ini &#8212; sebab saya tidak mau terlibat di dalamnya &#8212; Ternyata ogoh-ogoh masih membawa &#8220;cerita&#8221;.
Ogoh-ogoh itu ajang kreativitas anak muda Bali, BETUL. Ogoh-ogoh juga untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ogoh-Ogoh</strong>, sosok patung raksasa hasil kreatif pemuda Bali kerap membawa cerita. Dari tahun ke tahun. Bahkan pembuatan ogoh-ogoh sempat dilarang. Alhasil, keputusan inipun mendulang pro kontra. Terlepas dari pro kontra ini &#8212; sebab saya tidak mau terlibat di dalamnya &#8212; Ternyata ogoh-ogoh masih membawa &#8220;cerita&#8221;.</p>
<p>Ogoh-ogoh itu ajang kreativitas anak muda Bali, BETUL. Ogoh-ogoh juga untuk memenuhi salah satu syarat upacara jelang Brata Penyepian, yakni saat pengrupukan dengan fungsi untuk mengusir Bhuta Kala, jeg SETUJU masi. Ogoh-ogoh juga bisa dijadikan salah satu objek pariwisata, JEG BUIN ANGGUK-ANGGUK, <strong><em>kalau diatur dengan baik. </em></strong>.<br />
Dan dengan adanya <strong>ogoh-ogoh berarti harus nyumbang</strong> = Geleng-Geleng aja.</p>
<p><strong>Kenapa geleng-geleng ?</strong><br />
Masalah sumbang menyumbang ini sebenarnya bukan masalah jika yang datang hanya satu atau dua kelompok pemuda dari <u> banjar setempat</u>. Tapi kalau yang mungut sumbangan dari lintas <strike>mancanegara</strike> banjar, ini sepertinya yang akan memberatkan.</p>
<p>Seperti yang baru saja dialami ibu saya. &#8220;Ada yang mau minta sumbangan,&#8221; ucap ibu pada saya. &#8220;Kasi aja, secukupnya,&#8221; saya jawab demikian. Secukupnya itu berapa, mungkin itu yang ada dalam pikiran ibu saya, saya tidak memberikan penjelasan lebih rinci. Biarlah kebijaksanaan seorang ibu yang menentukan besaran rupiah yang harus disumbangkan. Apalagi yang <strike>nodong</strike> itu anak-anak dari banjar lain. Dan sebagai tambahannya, meskipun Ibu saya sudah menjelaskan kalau udah ada kelompok lain yang datang meminta sumbangan, mereka tetap saja ngotot minta sumbangan. Dan dengan bangga mengatakan kalau dia adalah anak-anak dari <strong>Banjar A</strong>. Bukannya merasa malu, karena ia minta sumbangan di bukan wilayah banjarnya. DASAR, anak-anak. <u>Semoga aja yang lebih dewasa bersikap lebih dewasa.</u></p>
<p>Kasus ini sepertinya sudah kerap terjadi.   Ir. I Made Sudibia, M.Si. dari Banjar Kukub, Desa Perean Tengah, Tabanan, juga mengeluhkan hal ini lewat <a href="http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2005/2/19/s1.htm">Surat Pembaca di BaliPost</a> tahun 2005 lalu.</p>
<blockquote><p>Sumbangan yang diminta  tidak  khusus untuk  anggota  banjar yang bersangkutan, tetapi  juga dari  kelompok  banjar lain. Sehingga, di gang  saya, misalnya, tiap  musim pembuatan  ogoh-ogoh  akan  didatangi  oleh lima sampai  tujuh kelompok  orang  kreatif (?) tersebut  untuk  meminta sumbangan  ogoh-ogoh. Caranya  ada yang sopan,  ada yang tidak  sopan (dengan  ancaman, &#8221;awas  nanti  rumahnya dilempari  atau  temboknya dirusak, dan lain-lain)&#8221;.  </p></blockquote>
<p>Itu <strong>Budaya</strong> 2005 lalu ternyata masih juga menjadi <em>Budaya </em>di tahun 2008. <img src='http://dewaji.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Lahh, kok maksa masukin kata budaya-nya. <img src='http://dewaji.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> ), Atau memang disanakah unsur budaya-nya ?  Dan kok sampe lempar-lemparan batu segala sihh ???</p>
<p>Dipoetraz lain lagi, ia mengungkap soal : &#8220;<a href="http://dipoetraz.blogspot.com/2008/02/professionalitas-sebuah-banjar.html" target="_blank">Professionalitas sebuah banjar</a></p>
<blockquote><p>Sebenernya kalo sumbang menyumbang sih ga masalah asal, maksud dan tujuannya jelas.<br />
Contohnya,<br />
Seharusnya sebelumnya sudah ada hasil survey mengenai:<br />
1. Ogoh-ogoh apa yang akan dibuat?<br />
2. Besarnya seberapa?<br />
3. Bahan-bahan apa saja yang diperlukan (mungkin saja yang nyumbang punya barang-barang yang diperlukan, karena itu lebih bermanfaat daripada uang yang tingkat penggunaan yang tidak jelas sangat besar.<br />
4. Akan dibawa kemana saja ogoh-ogoh tersebut?<br />
5. Kira-kira jumlah sumbangan berapa diperlukan-walaupun hanya sekedar estimasi saja?<br />
6. Siapa saja yang terlibat?<br />
7. (ada yang mau nambahin?)</p></blockquote>
<p>Nah saya mau tambahkan sedikit disini :<br />
8. Bisakah pihak banjar atau yang terkait MEMBATASI jumlah pembuatan ogoh-ogoh ?</p>
<p>Masa dalam 1 banjar ada lebih dari 3 ogoh-ogoh. Karena hal ini akan berkaitan dengan kegiatan mencari sumbangan lintas banjar tadi. Sekali lagi, saya tdk keberatan untuk nyumbang. Namun harus jelas pada siapa harus menyumbang dan untuk apa.</p>
<p>Dan kalau dalam meminta sumbangan itu harus menggunakan ancaman seperti yang dikatakan Bapak Ir. I Made Sudibia, M.Si, itu kan bukan budaya orang Bali yang dikenal ramah tamah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dewaji.com/ogoh-ogoh-sumbangan-budaya-dan-upacara.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
